Sabtu, 28 April 2012

Lahan Tambang Mineral Di Asteroid

Lahan Tambang Mineral Di Asteroid - Sejumlah eksekutif perusahaan teknologi dan sutradara film berencana melakukan survei dan menambang mineral langka dari asteroid yang mengorbit di dekat Bumi.
Rencana bernilai miliaran dollar AS itu termasuk penggunaan robot di ruang angkasa untuk mencari komponen kimia minyak dan mineral, termasuk emas dan platinum, dari bebatuan tersebut.
Para penggagasnya antara lain sutradara terkenal, James Cameron, dan pemimpin eksekutif raksasa internet Google, Larry Page dan Eric Schmidt.
Mereka bahkan berencana menciptakan depot bahan bakar di ruang angkasa pada tahun 2020.
Namun, sejumlah ilmuwan menyatakan keraguannya dengan menyebut rencana itu terlalu berani, sulit, dan terlalu mahal.
Para ilmuwan menyatakan, biaya untuk mewujudkan rencana itu sulit ditekan walaupun harga platinum dan emas sekitar 35 poundsterling (Rp 490.000).
Sebuah misi Badan Ruang Angkasa Amerika, NASA, yang rencananya akan membawa pulang hanya 60 gram materi dari asteroid ke Bumi memerlukan biaya sekitar 1 miliar dollar AS.
Sasaran ribuan asteroid
Langkah awal yang akan dilakukan dalam waktu 18 sampai 24 bulan ke depan mencakup peluncuran teleskop yang akan mencari sasaran asteroid yang kaya akan sumber mineral. Tujuannya adalah membuka eksplorasi ruang angkasa untuk industri swasta.
Dalam waktu lima sampai sepuluh tahun kemudian, perusahaan pengelola berharap mereka bisa bergerak dari bisnis penyewaan landasan pengamatan di orbit ke penambangan ribuan asteroid yang mengorbit di dekat Bumi dan menyaring bahan mentah yang dikandung.
Perusahaan yang disebut Planetary Resources ini juga didukung oleh penggagas pariwisata ruang angkasa, Eric Anderson; mantan calon presiden Amerika, Ross Perot; dan astronot NASA yang berpengalaman, Tom Jones.
"Kami tidak memperkirakan perusahaan ini dapat segera mengeruk keuntungan. Upaya ini akan makan waktu lama," kata Eric Anderson kepada kantor berita Reuters.
Profesor Jay Melosh dari Universitas Purdue mengatakan, biaya rencana ini sangat tinggi dan menyebut eksplorasi ruang angkasa sebagai "olahraga yang hanya diikuti oleh negara-negara kaya dan mereka yang ingin menunjukkan keunggulan teknologi."
Namun, Eric Anderson—yang mendirikan perusahaan pariwisata ruang angkasa, Space Adventures— mengatakan dia sudah terbiasa menghadapi orang yang skeptis. "Kami bergerak dalam industri ini selama puluhan tahun. Namun, ini bukan yayasan sosial, dan kami akan menghasilkan uang dari awal," katanya.

Sumber: tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar