Minggu, 05 Agustus 2012

Inspirasi : Mana Hasil Jerih Payah Ini?

Catatan Kepala: ”Orang yang menjadikan uang sebagai alat ukur utama keberhasilan sering terkecoh oleh tampak luar sehingga gampang menyerah atau lupa diri.”

Kita sering menjadikan uang sebagai ukuran utama keberhasilan seseorang. Jika uangnya banyak, maka seseorang layak dinilai sukses. Jika uangnya sedikit, maka tak ada cukup alasan untuk menyebutnya sebagai pribadi yang berhasil. Demikian pula halnya dengan pertumbuhan pribadi kita yang sering diukur dengan takaran yang sama, yaitu; berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan. Tidak heran jika kita sering merasa gagal kala melihat betapa sedikitnya uang yang kita miliki. Anda tidak perlu khawatir kalau-kalau saya menganjurkan hidup sederhana.
Anda juga tidak usah takut saya akan mempengaruhi Anda untuk menjadi orang miskin. Tidak. Bahkan, saya pribadi pun ingin sekali menjadi orang kaya raya dengan kepemilikan melimpah, kok. Kita punya keinginan yang sama. Tetapi, ketika sedang berproses untuk mewujudkan cita-cita itu, kita sering disiksa oleh perasaan negatif, hanya karena melihat kenyataan bahwa setelah semua jerih payah ini – uang kita tidak kunjung banyak. Percayalah, ada alat ukur lain yang dapat menentukan apakah usaha Anda sudah membuahkan hasil atau tidak. Dan Anda, tidak perlu menyiksa diri dengan pertanyaan; mana hasil jerih payah inih?

Setelah pensiun dari profesinya sebagai guru, Ayah saya menjadi petani sepenuhnya. Ketika pulang kampung bulan lalu, Ayah menunjukkan kebun mentimun yang baru saja ditanamnya. Dua helai daun mungil muncul dari biji benihnya. Pekan lalu, Ibu saya bertanya kapan saya pulang. Mentimunnya sudah dipanen, katanya. Bagi saya, pertani merupakan salah satu guru terbaik untuk belajar tentang kehidupan. Dari para petani, kita bisa belajar bagaimana proses menghasilkan sesuatu berlangsung. Orang-orang ‘kota’ seperti kita sering diburu oleh keinginan untuk menghasilkan segala sesuatu secara instan. Hari ini berusaha, hari ini harus ada hasilnya. Jika hari ini tidak mendapatkan apa yang kita inginkan maka kita buru-buru mengambil kesimpulan bahwa kita sudah gagal. Lalu kita tinggalkan semua yang sudah kita mulai itu dengan perasaan kesal. Para petani tidak begitu. Semua petani tahu, bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang diinginkan tidak ada cara instan. Ada serangkaian proses yang harus dilalui, yaitu; menanam, memelihara, dan barulah memanen. Para petani membantu saya menyadari betapa banyaknya prinsip hidup modern kita yang keliru sehingga hari-hari kita dipenuhi dengan tekanan batin yang bisa membuat depresi. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami makna hidup dari para petani, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™)  berikut ini:

 1. Mengatur fokus perhatian. 
Diantara system nilai petani yang layak kita tiru adalah mereka percaya bahwa; buah adalah ekses dari kualitas tetumbuhan yang ditanamnya. Saya ulang; ‘Buah adalah ekses dari kualitas tetumbuhan yang ditanamnya.” Jika ingin mendapatkan buah yang banyak, maka para petani sadar bahwa yang harus mereka lakukan adalah menanam benih yang baik, dan merawatnya dengan cara yang baik. Dengan prinsip yang sama, kita bisa mengembangkan kepercayaan bahwa; ”uang adalah ekses dari kinerja yang kita berikan”. Saya ulang; ”uang adalah ekses dari kinerja yang kita berikan”. Hasil akhir yang diharapkan petani adalah buah. Tetapi mereka tidak mengejar buah, melainkan membaguskan tanaman yang dirawatnya. Begitu pula halnya dengan kita. Uang adalah hasil akhir yang kita ingin dapatkan. Maka berguru kepada petani itu; seyogyanya kita tidak mengejar uang. Melainkan membaguskan kinerja dan kontribusi yang bisa kita berikan. Petani paham betul bahwa terlampau memfokuskan diri kepada buah bisa membuat mereka lupa untuk merawat tanamannya. Sebaliknya, memfokuskan diri kepada tanaman, justru bisa memberinya buah dengan kualitas terbaik, dan kuantitas yang melimpah. Maka, meskipun tujuan kita adalah untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, mari kita arahkan fokus kita kepada yang seharusnya. Fokuslah pada upaya merawat pohonnya, maka buahnya akan kita dapatkan.

2. Pertumbuhan diri adalah ciri utama keberhasilan. 
Sejak pertama kali menanam bibit mentimun itu, Ayah membutuhkan waktu sekitar satu setengah bulan hingga buahnya bisa dipanen. Di hari ketiga atau kesepuluh Ayah tidak pernah mengeluh; mengapa tanaman ini belum juga menghasilkan buah? Karena seorang petani sadar bahwa keberhasilan usahanya tidak diukur dari buah semata. Melainkan dari pertumbuhan yang diperlihatkan oleh tanamannya. Kita mengeluh jika belum juga menghasilkan uang. Padalah wujud keberhasilan usaha kita tidak semata diukur oleh uang. Lihatlah apakah pengetahuan Anda meningkat? Periksalah apakah keterampilan Anda bertambah? Jika ya, maka Anda tidak boleh berkecil hati. Usaha Anda sudah berhasil. Tapi mengapa tidak juga datang uangnya? Hey, lihatlah para petani itu. Mereka tahu bahwa saatnya panen belum lagi tiba. Sekarang adalah saat untuk menumbuhkan. Membesarkan. Dan membaguskan. Kita juga harus faham bahwa saat ‘memetik hasil’ dari segala jerih payah kita belum tiba. Bahkan ketika mentimun itu sudah mulai berbuah. Ayah tidak tergesa-gesa memetiknya. Ditunggunya beberapa hari lagi. Sampai buahnya matang sempurna. Kita sering terburu-buru ingin sesegera mungkin mendapatkan keuntungan dan uang melimpah. Para petani itu mengingatkan kita bahwa; ada saat yang tepat untuk memetik hasil terbaik.  Lebih dari itu, mereka mengingatkan kita bahwa keberhasilan tidak semata-mata ditandai dengan bertambahnya jumlah uang yang kita miliki, melainkan pada kualitas diri kita yang bertambah tinggi. Itulah makna dari pertumbuhan diri. Dan pertumbuhan itulah yang menjadi indikasi utama, apakah kita berhasil atau tidak.

3. Memberi kontribusi kepada lingkungan. 
Fokus kepada penanaman dan perawatan untuk menghasilkan pertumbuhan yang baik; itulah yang dilakukan oleh para petani. Pertanyaan saya, pernahkan Anda memperhatikan bagaimana petani memberi pupuk kepada tanaman agar bisa tumbuh dengan subur? Unik sekali. Petani tidak pernah menyuapi tanamannya dengan pupuk itu. Pakai sendok. Lalu memasukkannya kedalam mulut. Tidak. Alih-alih memberikan pupuk itu kepada tanamannya, para petani justru menebarkan pupuk itu ke permukaan tanah disekeliling tanaman itu. Lho, siapa sesungguhnya yang diberi ‘pakan’ oleh sang petani? Anda benar. Petani itu memberikan ‘pakan’ kepada tanah hingga menjadikannya gembur dan subur. Tidakkah ini isyarat yang demikian jelas bahwa; jika Anda ingin ‘tanaman’ milik Anda itu tumbuh baik maka Anda harus berkontribusi kepada lingkungan tempat tumbuhnya tanaman itu? Jika Anda ingin mendapatkan buah yang banyak, berilah pupuk kepada lingkungan sekitar pohon itu. Jika Anda ingin menghasilkan uang banyak, berilah kontribusi lebih banyak kepada lingkungan atau tempat kerja Anda. Kira-kira begitulah maknanya. Kita ingin sekali untuk menghasilkan uang yang banyak. Gaji yang besar. Bonus yang melimpah. Tapi, kita enggan untuk memberikan ‘pupuk’ terbaik agar perusahaan bisa ‘subur dan gembur’. Itu ibarat petani yang ingin tanamannya berbuah banyak tetapi tidak mau menebarkan pupuk kepada tanah disekitarnya. Mana mungkin pohon itu akan berbuah banyak jika tanah disekitarnya dibiarkan merana? Mana mungkin menghasilkan uang banyak jika kontribusi kita kepada lingkungan sangat rendah? Mana mungkin mendapatkan imbalan banyak jika kinerja yang kita persembahkan kepada perusahaan hanya sekedar alakadarnya? Berilah pupuk kepada tanah. Maka tanaman Anda akan berbuah melimpah. Berilah kontribusi kepada lingkungan. Maka Anda akan mendapatkan keberlimpahan.

4. Terus menebarkan benih yang baru. 
Sebelum menanam ketimun itu, saya tahu persis jika kebun Ayah ditanami buah pare. Sebelumnya ada terong. Atau kacang panjang. Para petani sadar bahwa tidak ada tanaman penghasil buah yang akan abadi. Maka sebelum tanaman yang satu berhenti berbuah, mereka sudah bersiap-siap untuk menebar bibit benih tanaman yang lainnya. Kita sering mengira bahwa apa yang menghasilkan hari ini, akan menghasilkan selamanya. Makanya, kita terus saja berkutat dengan apa yang biasanya kita lakukan. Tidak begitu cara para petani bersikap. Tindakan, standard kerja, kualifikasi keahlian atau apapun yang hari ini bisa menempatkan Anda sebegai pribadi yang unggul – mungkin sudah tidak akan bisa lagi bersaing beberapa tahun kemudian. Oleh karena itulah makanya kita butuh terus menerus ‘menanam’ benih baru. Apakah benih pengetahuan yang baru. Keterampilan baru. Perilaku baru. Atau apapun yang bisa membantu kita untuk selalu berada digaris terdepan. Karena hanya dengan cara terus menerus menanam bibit yang baru itulah, kita akan selalu menghasilkan sesuai dengan yang kita inginkan. Para petani, mengajarkan untuk tidak pernah berhenti berkarya dan berbuat. Tidak ada kata berakhir. Makanya, kita tidak pernah mendengar ada petani yang pensiun. Orang modern seperti kita sering dihantui oleh kata ‘pensiun’. Di usia 55, kita mendapatkan uang banyak sekaligus. Setelah itu kita bingung mau ngapain. Petani, tidak pernah mengalami itu. Karena mereka tahu, bahwa roda kehidupan tidak pernah sedetik pun berhenti. Sehingga kita, wajib untuk terus bergerak. Berbuat. Dan berkarya. Kakek saya – ayahnya ayah saya – wafat di tengah sawah. Ketika beliau sedang bekerja merawat tanaman-tanamannya. Kakek saya telah memberi teladan kepada cucunya, bahwa selama hayat dikandung badan; tidak ada kata berhenti dari menghasilkan karya-karya terbaru. Sampai kapan? Sampai sang pemilik hidup memanggil kita.

5. Cara terhormat untuk mendapatkan buah. 
Kebun Ayah hanya dipisahkan pematang sawah selebar 20 centimeter dari kebun milik petani lain. Tidak ada pagar pemisah. Apalagi tembok yang membatasi kebun-kebun itu. Ayah bisa melihat buah dari tanaman petani lain. Bisa menjangkaunya dengan mudah. Begitu pula sebaliknya. ‘Mendapatkan buah sebanyak-banyaknya adalah GOAL para petani. Tetapi, mereka tidak memetiknya dari pohon di kebun tetangganya. Mendapatkan uang sebanyak-banyaknya adalah tujuan utama kita. Pertanyaannya adalah; jika Anda memiliki akses kepada uang orang lain. Yang bisa dijangkau dengan mudah. Tidak dilindungi dinding tebal. Tidak dikunci dalam brangkas. Sanggupkah Anda untuk hanya ‘memetik’ uang yang tumbuh dari ‘pohon’ yang ada di ‘wilayah’ Anda sendiri? Para petani mengajarkan lebih dari sekedar cara mencapai tujuan. Mereka menunjukkan makna integritas yang sesungguhnya. Mudah untuk ‘tidak mencuri’, jika buah dipohon orang lain dikelilingi oleh pagar tinggi. Tetapi, ‘membiarkan’ buah milik orang lain yang tidak dilindungi tetap ditempatnya merupakan tantangan tersendiri. Gampang untuk ‘tidak mengambil’ uang yang bukan hak kita jika uang itu dijaga ketat. Tapi, jika uang itu ada didepan mata. Dan tujuan hidup kita adalah memperoleh sebanyak mungkin uang, bisakah kita menjaga kehormatan ini? Para petani mengajarkan bahwa ada banyak cara mendapatkan buah. Namun hanya ada satu cara yang terhormat, yaitu; memetiknya dari pohon dilahan mereka sendiri. Ada banyak cara untuk mendapatkan uang yang banyak. Namun hanya ada satu cara terhormat, yaitu; mengambilnya dari kepemilikan kita sendiri.

Kita percaya bahwa Tuhan akan mencukupkan rezeki setiap mahluknya. Itulah sebabnya kita jarang sekali menemukan ada yang kelaparan. Jika itu terjadi, maka bisa dipastikan adanya intervensi. Baik dari dalam dirinya sendiri, maupun dari luar. Intervensi dari dalam diri bisa berarti orang itu yang tidak mau berusaha melakukan tindakan yang memungkinkan rezeki yang sudah Tuhan siapkan itu sampai kepada dirinya. Intervensi dari luar bisa berarti orang-orang yang lebih kuat merebut dan menguasai jatahnya. Jika Anda bisa membaca artikel saya, maka itu menunjukkan fakta bahwa – seperti halnya saya – Anda jauh lebih beruntung dari kebanyakan orang yang lainnya. Kita memiliki kekuatan, kemampuan dan kesanggupan untuk melakukan lebih banyak hal daripada orang kebanyakan. Situasi aman disekitar kita juga menjamin minimalnya intervensi dari luar. Bukankah kita jarang sekali menemukan orang yang memeras kita? Mengambil hak kita secara paksa? Atau memotong gaji kita secara semena-mena? Masalahnya adalah; apakah kita sudah bisa membebaskan diri dari intervensi yang datang salam diri kita sendiri? Yaitu intervensi yang memaksa kita untuk tidak melakukan tindakan yang perlu kita lakukan agar semua rezeki yang Tuhan berikan untuk kita itu benar-benar berhasil kita dapatkan. Para petani itu sudah menunjukkan pelajaran terpentingnya.

Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Trainer of Natural Intelligence Leadership Training
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (Baru selesai cetak di penerbit)

Catatan Kaki:
Keberhasilan kita diukur dari pertumbuhan yang berhasil kita raih setiap hari, bukan dari uang yang berhasil kita kumpulkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar