Minggu, 05 Agustus 2012

Pejabat Ataukah Pemimpin?

Semua orang ingin sekali menjadi pemimpin, betul? Tidak juga. Yang kita inginkan sebenarnya adalah menjadi ‘pejabat tinggi’, bukan menjadi ‘pemimpin’. Di organsiasi bisnis misalnya, kita ingin menjadi Manager atau Direktur. Dalam pemerintahan, kita ingin menjadi Bupati atau Gubernur. Saat menginginkan jabatan itu, kita tidak benar-benar ingin menjadi pemimpin bagi umat atau orang-orang yang kita pimpin. Kita, lebih menginginkan kebanggaannya, prestisenya, dan fasilitas menggiurkannya. “Nggak juga tuch!” Saya senang jika Anda menyangkal seperti itu. Hal itu menunjukkan bahwa Anda memang berniat mengabdikan diri, bukan sekedar berambisi untuk meraih suatu posisi. Apakah itu penting? Bukan sekedar penting. Tapi juga menentukan apa yang kita lakukan selama memegang jabatan itu dan nasib kita sesudah selesai menjabatnya.
Ketika berkata “mengejar jabatan itu baik adanya,” saya mendapatkan respon beragam. Tanggapan paling menarik datang dari para sahabat yang tidak sependapat. Meskipun saya dapat ‘menjawabnya’ dengan argument canggih, tetapi saya tidak berhenti memikirkannya. Mengapa kita sampai diwanti-wanti oleh Sang Nabi soal tidak mengejar jabatan, padahal dikesempatan lain beliau mengingatkan bahwa kita mesti berani tampil untuk menjadi pemimpin? “Setiap pribadi adalah pemimpin,” katanya. Alhamdulillah, dari proses itu saya mendapatkan pemahaman tambahan. Terminologi kepemimpinan kita memang sudah dirancukan oleh nafsu untuk menguasai suatu kedudukan. Saya tidak tahu persis, apakah itu disebabkan karena sudah terjadi pergeseran peyoratif dari makna kepemimpinan. Atau memang dari dulu kita belum juga berhasil menerapkan konsepsi kepemimpinan itu secara utuh. Makanya, memimpin itu sama sekali berbeda makna dari menjabat. Proses pembelajaran saya masih belum berakhir. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami makna kepemimpinan yang sebenarnya, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:   

1. Setiap pribadi adalah pemimpin. 
Kalimat ini adalah penegasan paling kuat bahwa meskipun saya atau Anda tidak memiliki jabatan apapun; kita adalah seorang pemimpin. Dasar argumennya adalah firman Tuhan dalam kitab suci, dan kodrat ini sudah dimulai sejak Tuhan menciptakan manusia pertama – yaitu Adam. Seseorang memiliki pilihan untuk berambisi atau tidak berambisi meraih suatu jabatan. Tapi untuk menjadi seorang pemimpin, sama sekali bukan pilihan. Itu kehendak dari Sang Pencipta. Masalahnya, mata kita masih dikaburkan oleh ‘jabatan’ sehingga kita sering merasa kecil atau menilai diri bukan siapa-siapa hanya karena kita tidak menduduki jabatan apa-apa. Padahal, justru sejak dilahirkan pun kita ini memang sudah menjadi pemimpin kok. Mengapa kualitas kepemimpinan itu tidak menonjol dalam perilaku kita? Itu karena kita lebih suka menunggu untuk mendayagunakannya ‘nanti’ kalau kita sudah mendapatkan jabatan. Sekarang? “Mengapa saya harus berlagak bak seorang pemimpin?” Keliru. Karena kepemimpinan tidak berkaitan langsung dengan jabatan. Mari kita sadari bahwa di pundak kita ada amanah kepemimpinan yang dititipkan Tuhan. Jadi, mulai sekarang act like a leader suppose to be, meskipun kita tidak memegang jabatan apapun.

2. Berguru kepada pemimpin pilihan.
Siapa pemimpin panutan yang paling Anda kagumi? Anda boleh menyebut nama mereka. Bahkan, pelatihan-pelatihan kepemimpinan sering mengacu kepada gaya kepemimpinan mereka. Pertanyaan saya; adakah terselip dalam daftar pemimpin panutan Anda itu nama para Nabi? Dalam pandangan saya, tidak ada pemimpin yang lebih patut untuk diteladani selain para Nabi. Tidak perlu mempermasalahkan Nabi saya atau Nabi Anda siapa. Faktanya, merekalah pemimpin sejati bagi segala umat. Saya pribadi, meyakini semua Nabi yang pernah diutus Tuhan untuk memimpin umatnya. Sebutkanlah nama Nabi suci Anda; maka saya akan mengimaninya. Para Nabi berbeda dari para raja. Sehingga semua Nabi adalah pemimpin, sedangkan para raja banyak yang menjadi symbol monopoli kekuasaan. Sampai hari ini, kita bisa melihat betapa jauh berbedanya karakter orang-orang yang meniru para raja dengan mereka yang mencontoh para Nabi. Para pengagum raja-raja memiliki semangat yang sangat tinggi untuk merebut jabatan yang diincarnya, dengan cara apapun jika perlu. Dan setelah menjabat? Hmmh, kita melihat banyak fenomena tentang tingkah polah mereka. Di kantor-kantor pemerintahan. Maupun di ruang-ruang bergengsi perusahaan. Sebaliknya, para pencontoh Nabi. Mereka mengabdikan dirinya untuk kemaslahatan orang-orang yang dipimpinnya. Karena mereka sadar, bahwa kepemimpinan yang diembannya adalah amanah suci yang mesti dijaga kemurniannya. Kita bisa berguru nilai-nilai itu kepada pemimpin pilihan Tuhan, yang bergelar Nabi.

3. Memprioritaskan orang-orang yang kita pimpin. 
Setiap umat memiliki kisah indahnya masing-masing tentang Nabi-Nabi mereka. Dari kisah-kisah para Nabi itu, saya menemukan bahwa ternyata mereka selalu berada di garis paling depan dalam setiap urusan kebaikan. Ketika dizaman modern ini kita mengenal pemimpin-pemimpin sederhana yang terbebas dari belengggu hedonisme; kita bersimpati kepada mereka. Ketika menyaksikan para pejabat bergelimang kemewahan, kita hanya bisa mengurut dada.  Begitu banyak pejabat yang ada di lingkungan kita. Tetapi, mungkin hanya sedikit sekali kita memiliki pemimpin yang bersedia berdiri dibarisan paling depan dalam memperjuangkan kesejahteraan dan kebaikan orang-orang yang dipimpinnya. Jika saat ini Anda tengah memegang suatu jabatan – mungkin supervisor, manager, atau direktur – mari mulai bertanya; sudahkah Anda meniru para Nabi dalam cara Anda memimpin anak buah Anda. Ataukan Anda masih meniru perilaku para raja yang haus akan kekuasaan? Mudah saja untuk membedakannya. Para Nabi rela mengorbankan kepentingan dirinya demi mendahulukan kepentingan orang yang dipimpinnya. Sedangkan para raja yang memonopoli kekuasaannya, dicirikan oleh nafsunya untuk mengeruk keuntungan dari kedudukan yang dipegangnya. Mengutamakan kolega-kolega terdekatnya. Sekaligus mengamankan posisi itu untuk hanya diteruskan oleh orang-orang yang dikehendakinya. Mari meniru para Nabi yang memimpin dengan cara menempatkan kepentingan orang-orang yang dipimpinnya di pada prioritas yang paling tinggi.

4. Melakukan apa yang dikatakan. 
Salah satu masalah terbesar yang mengusik mental kita adalah jomplangnya antara perkataan dan perbuatan orang-orang yang menduduki jabatan tinggi. “Disiplin!” katanya. Tapi dia sendiri tidak disiplin. Ketika para CEO perusahaan raksasa di Amerika menyerukan “penghematan!” pada pos-pos pengeluaran perusahaan, kongres dan rakyat merasa senang. “Sudah insyaf, mereka…”. Namun, ketika diketahui bahwa para CEO itu menolak untuk menghentikan fasilitas jet dan kapal pesiar sambil menghambur-haburkan dana talangan untuk bonus mereka sendiri; seluruh rakyat Amerika menjadi murka. Sungguh bertolak belakang perkataan dan perbuatan mereka. Anda tidak perlu meminta saya untuk bercerita tentang kondisi di Indonesia. Cukuplah kiranya jika kita saja  yang memulai melakukan apa yang kita sendiri katakan. Mengharapkan orang lain begitu, belum tentu mau. Tapi jika kita sendiri yang melakukannya, semoga itu bisa menjadi inspirasi bagi anak buah kita. Bahwa dalam memimpin mereka, kita tidak sekedar berbicara. Kita bersedia untuk melakukannya bersama mereka.

5. Mempertanggungjawabkan amanah kepemimpinan. 
Setiap pemimpin pasti dimintai tanggungjawab atas kepemimpinannya. Jangan tanya saya, apakah setiap pejabat juga akan dimintai pertanggungjawaban atas jabatan yang dipegangnya? Mari kita fokus saja kepada pemahaman bahwa jauh lebih baik melakukan amanah kepemimpinan kita sesuai dengan yang Tuhan inginkan daripada menantang resiko kelak kita dikenai pasal-pasal pelanggaran atas tuntunan-Nya. Anak buah kita, mungkin tidak tahu apa yang kita lakukan. Kalaupun ada anak buah yang mengetahuinya, belum tentu mereka berani mengingatkan kita untuk tidak mengulanginya. Kalau pun mereka berani mengingatkan, belum tentu kita mau mendengar seruannya. Tapi selama kita yakin ada Tuhan yang menyaksikan, masak sih kita masih PEDE untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya? Tentu Anda masih ingat ketika Presiden membacakan laporan pertanggungjawabannya dihadapan MPR. Tidak sulit lho untuk mendapatkan persetujuan atau penerimaan majlis atas kinerja presiden. Menangnya kalau MPR tidak setuju terus mantan Presiden itu harus diapain? CEO juga tidak rumit untuk membuat laporan pertanggungjawaban dihadapan share holder. Setidaknya, saya pernah ambil bagian dalam penyiapan dokumen pertanggungjawaban BOD dalam rapat pemegang saham. Ternyata tidak sulit-sulit amat. Jika kinerja sedang bagus, share holder sumeringah. Jika kinerja sedang buruk, selalu ada penjelasan mengapa bisa demikian. Diterima juga. Tapi sampai sekarang, saya belum tahu bagaimana caranya mengakali laporan pertanggungjawaban dihadapan Tuhan. Atas tampuk kepemimpinan yang saya emban.

Tampillah untuk menjadi seorang pemimpin. Karena boleh jadi, melalui Anda; Tuhan memberikan jalan terbaik untuk orang-orang yang Anda pimpin. Jika saat ini Anda sudah memegang jabatan atau posisi penting di perusahaan, maka pastikanlah untuk menjadi pemimpin bagi anak buah Anda. Jika saat ini Anda belum mendapatkan giliran untuk memegang jabatan tertentu, maka ingatlah; bahwa akar kepempinan itu sudah ada didalam diri Anda. Tidak perlu menunggu nanti untuk mengamalkannya. Karena Anda, bisa mendayagunakannya. Saat ini juga.

Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman

Catatan Kaki:
Ada banyak cara untuk menjadi pejabat hebat. Namun untuk menjadi pemimpin, hanya ada cara yang disukai Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar